Multiplyna Kang Avid


Blog EntryMohon "Du'a Ratus Ribu"nyaMar 25, '08 12:08 AM
for everyone
MOHON "DU'A RATUS RIBU"NYA



Mohon kehadirannya. Mohon doa restunya. Mohon dua ratus ribunya :))).

Blog EntrySajak Cinta Pagi HariOct 30, '07 3:11 PM
for everyone
SAJAK CINTA PAGI HARI

Pagi Kejoraku,

Taukah kau, bila rasa sayangku padamu pagi ini telah bertambah 1000 kali lipat
dari pagi kemarin?

Taukah kau bila setiap pagi rasa cintaku bertambah berlipatlipat
dari pagi-pagi sebelumnya?

Aku cinta padamu, Sayangku
Dan cinta itu terus bertambah
terus bertambah
terus bertambah ...

Mlp, 28 Oktober 2007

Blog EntryDan Ecca pun PulangAug 29, '07 1:44 PM
for everyone
DAN ECCA PUN PULANG

Meski awalnya tak suka, ternyata setelah diperhatikan, program reality show Mamamia di Indosiar seru juga. Kontes menyanyi remaja yang dimanajeri masing-masing ibu tersebut ini tidak hanya menyuguhkan kompetisi dalam hal teknis olah vokal, tetapi juga menyangkut banyak hal, mulai setting panggung, tata busana, gaya koreografi dan terutama –yang paling menarik, adalah keterlibatan emosial di antara para anak-anak dan ibunya. Banyak kejadian-kejadian dramatis yang terjadi, dari pingsannya seorang ibu karena anaknya masuk “zona kritis,” anak-anak yang ngambek (atau sebaliknya) karena ketidaksetujuan konsep, penampilan Fiersha yang membuat Dhani “nderes mili,” komentar-komentar “Dewan Eksekutor” yang pedas plus protes ibu-ibu terhadapnya, sampai pada kejutan-kejutan yang memang dirancang sendiri oleh pembuat acara.

Dan di minggu ini –yang main malam tadi– tersisa lima peserta: Margareth, Mytha, Ajeng, Ecca dan Fiersha. Kelima remaja ini memang bisa dikatakan yang terbaik, karena mereka memiliki keunggulan masing-masing, baik dari segi teknis olah vokal maupun yang menyangkut sisi emosionalitasnya. Margareth dan Mytha misalnya. Keduanya memiliki teknis olah vokal yang sangat prima. Margareth bisa dikatakan terbaik dalam hal ini. Dia bisa membawakan setiap lagu tidak saja dengan sempurna tetapi juga berkharakter. Penampilan sang ibu, Sayidah, juga tak kalah menarik. Tingkahnya yang lugu dan kocak memberi nilai tambah yang signifikan untuk menarik para juri “votelock” memilihnya. Sementara Mytha sangat matang dalam musik jazz. Dalam sebuah komentarnya, Helmi Yahya mengatakan bahwa Andien baru telah lahir. Penampilan Mytha, kharakter vokal maupun wajahnya, memang mengingatkan kita pada penyanyi jazz muda itu. Meski sempat tersandung karena salah memilih lagu pada minggu sebelumnya, posisi Mytha nampaknya akan masih sangat aman, khususnya dari eksekusi para eksekutor. Penampilan sang ibu yang kalem juga memiliki kelebihan tersendiri. Saya bahkan memprediksikan, dari keseluruhan peserta, mungkin hanya kedua anak ini yang akan memiliki karir yang panjang dalam musik Indonesia.

Tiga lainnya juga memiliki daya tarik yang tak kalah, terutama secara emosionalitas. Ada Fiersha yang kerap membuat kita terharu. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki ia bisa tampil dengan tegar dan penuh semangat yang membuat kita sangat terenyuh. Penampilan terbaiknya adalah ketika di hari ulang tahunnya dia menyanyikan lagu Air Mata Ibu dengan sempurna yang membuat para pendengarnya merinding dan berkaca-kaca. Didampingi sang ibu yang nampak sekali sebagai seorang “pejuang,” Fiersha mungkin adalah yang paling peserta yang paling diingat oleh para penonton rumahan. Helmi sendiri berkali-kali mengatakan bila saja kompetisi ini ditentukan dengan format sms besar kemungkinan Fiersha yang akan menang. Sementara Ajeng tak kalah faktor emosionalitas-nya. Latar belakang yang sulit sebagai seorang pengamen jalanan memberi dia tempat tersendiri di hati para penonton. Terlebih karena dengan latar belakang seperti itu dia tampil penuh percaya diri dan ceria. Ajeng seakan-akan mewakili komunitas “orang –orang pinggiran” yang dengan gagah berani menantang gemerlap dunia showbiz yang konon tak berbelas kasihan.

Terakhir adalah Ecca. Dia adalah favorit saya. Penampilannya yang imut dan lucu sungguh menggemaskan. Helmi bilang, bahkan bila Ecca tak nyanyi pun orang sudah akan memilih dirinya karena ia memang memiliki daya tarik yang kuat karena ke-imutan-nya. Penampilan terbaiknya menurut saya adalah ketika ia menyanyikan lagu Apa Kata Bintang membuat besoknya saya langsung mencari kaset Gita Gutawa. Sophia Latjuba mengatakan salah satu keunggulan Ecca adalah karena dia tampil sesuai umurnya. Sayangnya, dengan kharakter seperti itu, seperti yang pernah dikeluhkan ibunya, Ecca tak punya banyak lagu yang selalu cocok dinyanyikan, sehingga di beberapa minggu terakhir terpaksa menjadi dewasa juga dengan menyanyikan lagu cinta. Apalagi kompetisi memang berjalan cukup panjang.

Dan salah satu konsekwensi dari panjangnya kompetisi juga adalah kebosanan. Pada peserta yang lebih menampilkan sisi emosionalitas sebagai keunggulannya sudah mulai mendapatkan dampaknya. Malam tadi, dari kelimanya, hanya Margareth dan Mytha –yang memiliki keunggulan dalam bidang teknis, yang dalam posisi aman. Tiga yang lain, bahkan Fiersha yang biasanya selalu aman, masuk zona kritis. Dan akhirnya Ecca pun harus tersisih. Sedih memang. Namun, apapun, ini adalah konsekwensi dari sebuah kompetisi.

Well, C U Ecca!

Blog EntryYang Terbaru dari AdaAug 25, '07 8:31 PM
for everyone
YANG TERBARU DARI ADA

Pasca keluarnya Baim, Ada Band tampil dengan sebuah konsep baru: lebih ngepop, sederhana dan manis. Ini tentu saja disesuaikan dengan karakter vokal Donnie yang memang “tak rumit” di telinga. Dan ternyata berhasil. Bahkan bisa dikatakan konsep baru ini lebih diterima ketimbang ketika masih masih divokali Baim yang cenderung lebih ngerock. Hal ini patut diacungi jempol, karena tidak mudah sebuah band membentuk kembali identitasnya –dan diterima, setelah berganti vokalis, yang tentu saja menjadi sejak awal ciri khas utama band tersebut. Tak banyak yang bisa begitu. Yang terbilang sukses paling hanya Dewa, dari Ari Lasso ke Once.

Dengan konsep baru tersebut, Ada Band kini telah menempati sebuah ruang yang tak tergantikan band-band lain di kalangan pendengarnya. Lagu-lagu mereka menjadi akrab karena memang simpel dan mudah dicerna. Tak berlu berkernyit untuk menikmati nomor-nomor semacam Masih (Sahabatku, Kekasihku), Manja, Jadikan Aku Raja atau Manusia Bodoh. Di kantor saya, single-singel tersebut menjadi sangat favorit untuk dinyanyikan dalam lomba karaoke. Pada awal kemunculannya, lewat album Metamorphosis pada tahun 2003, mereka bahkan mungkin satu-satunya band yang masih menjadi pilihan di tengah kuatnya cengkraman dominasi Peterpan yang sedang puncak-puncaknya --disaat meredupnya pamor band-band dan penyanyi pencetak penjualan lebih satu juta keping: Dewa, Padi, Jamrud, S07 dan Kris Dayanti.

Album-album mereka, meski tak se-spektakuler band-band yang disebut tadi, tetapi juga tak mengecewakan. Mungkin posisinya hampir sama dengan Gigi. Tak sedikit, tetapi juga tak terlalu banyak. Kebetulan dalam hal produktivitas keduanya hampir sama, secara rutin mengeluarkan album bahkan kadang dalam waktu yang relatif cepat.

Ada banyak singel-singel yang mengingatkan kita pada mereka. Metamorphosis menghasilkan single-single akrab seperti Manja dan Masih (Sahabatku Kekasihku). Di album The Best of Discography ada Jadikan Aku Raja dan Dimanakah. Album Heaven of Love mencuatkan Manusia Bodoh dan Setengah Hati. Di Album Roman Raphsody ada Haruskah Ku Mati, selain single jagoan Karena Wanita Ingin Dimengerti.

Di pertengahan tahun ini Ada Band kembali mengeluarkan album baru bertajuk Cinema Story. Kini agak lain karena Album ini merupakan soundtrack dari sebuah film berjudul Selamanya. Menyajikan 6 lagu baru dan 6 lagu lama, Ada Band masih tampil dengan ciri khasnya. Ada best cut Akal Sehat yang dijadikan jago, namun yang lebih ngetop nampaknya adalah Nyawa Hidupku seperti yang diiklankan di TV-TV. Lagu ini memang memiliki refrain yang lumayan enak, tipe-tipenya seperti lagu Haruskah Ku Mati. Meski begitu, di banding album-album sebelumnya, album ini terasa lebih 'sulit'. Dibutuhkan beberapa kali putaran untuk dapat menikmatinya. Alur nada-nadanya lebih susah ditebak –gejala yang sebenarnya sudah hampir terlihat di album terakhir. Walhasil yang ini nampaknya agak susah untuk menjadi favorit lomba karaoke lagi. Tapi untuk menemani kita menyetir, lumayanlah.

Blog EntryJengkolAug 24, '07 10:06 PM
for everyone
J E N G K O L

Duka aya naon dina jengkol. Nu puguh mah kuring sok hese eureun ngahuap mun aya eta kadaharan teh. Rek nu ngora, nu kolot, malah ka sepi-sepi dikaramus. Rek nu atah atawa nu asak (digoreng atawa disemur) teu halangan. Pokona sarupaning jejengkolan kuring mah hobi. Malah aya ojoyna mun dibandingkeun batur jigana: kuring mah dahar jengkol teh teu kudu make sambel bae. Ditambul jeung sangu ge jalan.

Ti leuleutik eta teh. Nepi ayeuna umur meh nincak kapala tilu teu kurang-kurang. Najan ayeuna mah memang teu pati dipupujukeun. Ma’lum euweuh nu ngurusna bujangan mah. Dahar teh sasampakan di nu dagang wae. Padahal apanan arang langka rumah makan atawa restoran nu nyadiakeun eta kadaharan. Peuteuy onaman, nu sarua matak bau, masih loba nu nyadiakeun. Paling-paling semurna nu sok remen kapanggih teh. Baheula mah, basa keur hirup di Bandung kota, sok kalan-kalan ngahaja meuli di Giant BSM. Di beh rak sayuran sok aya dibungkusan paketan. Tangtuna ge rada leuwih mahal batan di pasar. Ngan, kangaranan lalaki jiga kuring, tibatan kukurusukan di Kosambi atawa Cicadas mah puguh we mending meuli di dinya. Praktis. Kungsi eta ge aya nu rada moyok. Basa antri di kasir rek mayar hiji ibu-ibu, jigana teu sadar, ngagorowok kaget basa nempo kuring mindah-mindahkeun balanjaan tina karanjang ka meja kasir sina diitung. “Ih jengki,” cenah. Kuring cuek bae.

Tangtuna ge teu kabeh jiga kuring. Najan teu kurang-kurang nu jengkol mania oge tapi jigana leuwih loba alergi kana eta lalab teh. Khususna awewe. Si Eneng, bebene kuring manten, sok molotot mun kuring geus ngarampa jengkol teh. Kaharti sih. Sanajan enya ngeunah jeung matak ponyo tapi jengkol boga epek khas anu matak teu nyaman: bauna. Saha nu teu apal atuh kana bau jengkol nu matak nyengak kana irung. Salian ti kaambeu langsung tina napas oge epekna teh kana bubuangan, utamana cikiih. Aromana sok napel mangpoe-poe di WC teh. Kungsi ngalaman kajadian lucu perkara eta. Baheula basa PKL keur kuliah di Sumedang dipangmasakkeun ku tuan rumah teh jengkol. Poe kahiji mah euweuh nu wani noel, sabab digebes ku babaturan awewe. “Awas jangan kencing di WC!” ancam salah saurang. Poe kadua, masih keneh jengkol. Kuring mimiti ngawani-wani maneh, dibaturan ku salah saurang. Ancaman barudak awewe teu diwaro. Poe katilu nambahan sababaraha urang nu milu. Poe kaopat jeung satuluyna mah kabeh, nepi ka barudak awewena, dalahar jengkol. Rugi, cenah, bauna kabagean tapi barangna teu ngasaan.

Ari ku resep mah, masing bau-bau ge dihantem bae. Eta ge loba palakiah supaya ngurangan bauna. Anu biasa ngaroko mah sok langsung bae melenyun. Leungit memang bau jengkolna, katutup ku bau bako. Mun aya mah ku bonteng oge lumayan nulung, sanajan sok masih keneh kaambeu. Aya nu nyebutkeun ngaramus beas sajumput. Cenah mah ku ieu mah bubuangan na ge teu pati bau. Kuring mah, kusabab tara ngaroko, sok ngandelkeun peremen bae. Sanajan teu jarang sok kapohoan. Sadar-sadar mun geus nempo batur babalieuran mun keur ngobrol.

Untungna kuring mah can ngasaan jengkoleun. Enya panyakit disababkeun ku ngahadar jengkol. Ulah kahayang mah. Bejana kasiksa pisan kusabab teu bisa kiih. Bisa ge nyeri. Biasana eta teh ngalanggar pantangan. Cenah mah mun ngadahar jengkol teu meunang bareng jeung peuteuy. Atawa mun geus ngadahar nu atah tong ngadahar nu asakna. Bener henteuna duka tah. Nu jelas mah babaturan kungsi keuna ku jengkoleun kusabab ngadahar jengkolna ...sakeresek.

Geus ampir dua bulan ieu, kuring teu mirasa bae dahar. Ngarumas meureun. Pedah jauh ti lembur bari hirup nyorangan, sanajan aya bibi nu mangmasakkeun ge. Karuhan atuh awak ge rada ngorotan. Mangkukna basa papanggih jeung babaturan ge heraneun. “Na karek tilu bulan pindah geus ngabegangan kieu?” cenah. Eta ge enggeus nginum jamu. Kabeneran pernah aya tukang jajamu ngalanto ka kantor. Nya dibere jamu napsu makan. Tapi teu pati ngaruh. Hulang-huleng, ahirna kapikir jurus heubeul: jengkol.

Nu matak, kamari mah pesen ka si bibi: mangnenangan keun jengkol. Balik-balik mawa sepi sakeresek.

Lumayan rada ponyo tah.

Blog EntryOrang Gila di HP-kuAug 19, '07 10:29 PM
for everyone
ORANG GILA DI HP-KU

PERNAH berurusan dengan orang gila? Saya lagi. Ini bener-bener gila dalam arti sebenarnya bukan gila-gilaan. Saya memang kadang suka juga dengan hal-hal yang berbaru “gila”, tapi dalam arti yang lucu-lucuan. Dulu semasa jaman-jaman SD-SMP saya menggandrungi tokoh Wiro Sableng, karangan Bastian Tito, karena tokohnya “gila”. Saya sendiri banyak memiliki kebiasaan aneh, yang kadang di-”gila”-kan oleh temen-temen. Si Iva kerap mengomel ‘Dasar nu gelo!’ pada saya, bila dia sedang kesal karena saya kerjaain.

Tapi yang ini beda. Ini bener-bener gila dalam arti sinting, sakit!

Begini ceritanya:

Kira-kira tiga bulan yang lalu, ketika masih tinggal di Bandung, saya menerima sebuah sms gak nyambung dari sebuah nomor tak dikenal. Semula itu tak saya hiraukan. Meski tak sering, memang satu atau dua kali ada pernah juga saya menerima orang salah sambung atau salah sms. Tapi sms itu ternyata berlanjut dengan sebuah permintaan maaf sudah salah pencet. Anehnya dia kemudian bersikeras menanyakan siapa saya. Saya jawab sekenanya. Saya masih berfikir ini orang salah sambung.

Tapi jawaban saya rupanya membuat orang gila ini bersemangat. Dia terus memberondong saya dengan beberapa pertanyaan susulan. Tak berhasrat untuk bermain-main, saya tak menanggapinya. Tapi rupanya itu membuatnya tambah penasaran. Berkali-kali dia miscall. Ketika saya angkat, langsung diputus. Saya mulai merasa heran dengan maksud orang ini.

Ternyata hal itu berlanjut setiap hari, bahkan sampai saya pindah dari Bandung. Ada saja yang ditanyakannya dan selalu meminta saya menjawab dengan membubuhkan : bls pls di akhir sms-nya. Penasaran, saya tanyakan apakah saya mengenal dia. Dia menjawab tidak dan mengaku bahwa dia benar-benar salah pencet. Tapi saya yakin dia berbohong. Bila tidak, mana mungkin dia mengubungi saya terus. Dia mengenalkan diri sebagai seorang laki-laki, kelas satu SMA. Dia juga mengatakan tinggal di sebuah daerah yang sama denganku. Ketika saya tanyakan maksud terus meng-sms-ku dengan kurang ajar dia menjawab: iseng aja gak ada kerjaan.

Yang mengherankanku adalah cara dia menulis setiap sms-nya. Tulisannya sama sekali tak menunjukan bahwa dia adalah seorang lelaki. Setiap huruf yang diketik dia atur sedemikian rupa besar kecilnya, mirip sms-sms dari teman-teman cewek saya, dengan bahasa gaul khas abg sekarang. Saya sempat menyangka dia seseorang yang lain. Tetapi setelah saya pancing dia dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang homo, keluar juga sifat aslinya. Bahasanya menjadi kasar dan sembrono. Baru saya yakin dia memang seorang batangan. Mungkin bencong, meski berkali-kali mengatakan bahwa dia sudah punya pacar cewek yang bernama Nur. Dugaan saya dia adalah tetangga saya ketika masih di Bandung. Meski saya tak bisa menebak-nebak yang mana.

Tentu saja ini membuat saya terganggu, terutama karena miscall-annya yang tak mengenal waktu. Pagi, siang, sore bahkan tengah malam. Karena jengkel, sempat pula saya maki-maki dia. Beberapa kali dia terpancing, bahkan pernah berjanji takkan mengganggu saya lagi. Tapi besoknya, miscall lagi. Sms lagi. Lama-lama saya cuekin dia sama sekali.

Tapi itu tak menghentikan dia. Hampir setiap hari dia dengan setia mengirim sms atau memiscall saya. Menanyakan kabar saya di tempat baru atau pura-pura salah mengirim sms, lalu meminta maaf. Pernah juga dia meminta agar saya mengakui bahwa saya-lah yang sering meneror dia dengan nomor tertentu. Tapi tak pernah saya respons. Keinginan untuk memaki-maki atau menyerangnya selalu saya tahan, karena akhirnya saya sadar: ini orang sakit. Dan tak ada gunanya berkomunikasi dengan orang seperti ini. Mungkin dia terkena semacam sindrom yang membuatnya merasa bahwa dia adalah orang yang sangat istimewa sehingga setiap orang tertarik kepadanya.

Lama-lama saya jadi terbiasa. Bahkan kadang aneh juga bila sehari tanpa miscall-an atau sms salah sambungnya. Saya juga coba pernah mengerjainya. Dengan hp anak-anak, saya sms atau miscall dia. Hasilnya, bagaikan penyakit menular. Anak-anak mengeluh karena hampir tiap hari di miscall oleh nomor tersebut. Saya hanya tertawa.

Putus asa karena tak juga berhasil menarik perhatian saya, rupanya dia menggunakan strategi baru. Beberapa hari yang lalu dia mengaku sebagai saudaranya dan mengabarkan bahwa dia terkena kecelakaan dan dalam keadaan koma. Tapi tetap saya cuekin. Dua hari kemudian datang sms yang mengatakan (dia masih mengaku sebagai saudaranya) bahwa dia telah meninggal akibat kecelakaan. Konyolnya, tulisan Innalillahi-nya, seperti biasa, diatur besar kecilnya (digaulkan) sehingga tak mengesankan kesedihan. Juga saya cuekin. Bahkan lega. Saya pikir, kalau dia sudah mengaku meninggal dia tak mungkin punya alasan mengganggu saya lagi.

Ternyata dugaan saya salah. Tiga hari yang lalu datang lagi sms. Kali ini dia mengatakan bahwa hp-nya beberapa hari dipinjam sama orang lain, jadi kabar-kabar mengenai dirinya semua bohong. Lha, hidup lagi ni orang rupanya!

Dan sampai kini, sudah hampir tiga bulan, dia masih setia meng-sms dan memiscall saya hampir setiap hari.

Dasar sakit!

Blog EntryAgustusanAug 17, '07 9:23 PM
for everyone
AGUSTUSAN





Blog EntryBack SongAug 14, '07 11:53 PM
for everyone
BACK SONG



[ baru buka blog pake speedy, ternyata backsong-nyah jalan juga yah, he ]

: yang di multiply pasti gak kedengaran :)

Blog EntryHujan Bulan JuniJun 29, '07 9:49 PM
for everyone
HUJAN BULAN JUNI

--Sapardi Joko Damono

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


[

Hujan masih turun di Juni ini. Dan aku masih di sini.
Sendiri dikalut sepi.

Hujan masih turun di Juni ini. Dan aku masih di sini.
Bersama Sapardi. Bernyanyi.

Hujan masih turun di Juni ini. Dan aku masih di sini.
Mencari dan terus mencari.

]

Blog EntryDoubleMay 21, '07 1:17 PM
for everyone
DOUBLE



Akhirnya, double winner. Selamat!

Blog EntryNguseupMay 15, '07 2:07 PM
for everyone
N G U S E U P

SABENERNA teu pati resep kana ngusep teh. Teu resep malah. Duka da. Padahal pun aki mah jenatna (aki ti pun bapa), manukna tah kana usap-useup teh. Diulik malah ku anjeunna mah. Ti urusan jeujeur, eupan nepi ka kukumbul-kukumbul tara sambarangan make. Kudu maranti, cenah. Mana jang di balong, mana jang di walungan, mana jang di laut. Beda-beda. Di balong ge macem-macem. Kuma gede leutikna, jero henteuna. Kuma jenis laukna deuih. Lah pokona mah kumplit we spesepikasina teh. Malah samemeh anjeunna brek udur mah –dugi ka pupusna, di bumina teh sok bari icalan alat-alat nguseup kenging damelanna.

Pun bapa ge, sanajan teu pati kokomoan teuing, resepeun kana nguseup teh. Babakuna mah ketang kana uras-urus laukna eta mah. Kana miarana. Ti baheula, karesepna ngan kana nyewa atawa ngagade balong. Sanajan asa can kaparengan kaala hasilna ge. Enya, maksud teh bisa ngajual bari kalayan boga bati. Rugi jeung rugi we. Mun teu alatan gemprah paraeh, aya nu maling atawa garing kasaatan. Padahal ari ngabibitan mah tuluy-tuluyan. Malah sok ngorbankeun sagala rupa tateh. Ayeuna ge gawena teh ngan ulukutek we di balong. Kabeneran gaduh balong titinggal pun aki (nu ti pun biang ieu mah), di sisi walungan Cileueur. Mun ditaros obsesina teh ngan hiji: hayang ngabeton balong, cenah.

Tapi da teu nurun ka kuring mah. Teu resep we. Enya kana nguseup. Eta ge ketang teu ari cadu mah. Sakali-kali mah osok oge ula-ilu. Utamana mun dititah ku dunungan. Tuda geus sababaraha kali pareng boga dunungan resep nguseup. Dunungan tea... atuh pikiraneun. Babaturan deuih, sok remen ngarajak. Ongkoh geus jadi kabiasaan di kantor kuring mah mun aya nu meunang promosi atawa mutasi teh sok terus we ditaragih nguseupna. Kabeh daratang. Nya sakali-duakali mah kapaksa we milu. Tamba teu disebut kuper teuing. Da ari eupan jeung jeujeurna na mah tara kudu mawa ti imah ieuh.

Ngan nyaeta meureun ku teu bakat tea, tara we dibere meunang. Sanajan batur-batur haben ngangkat ge ari kuring mah paling copel ngan meunang tilu atawa opat siki. Eta ge nu laleutik. Heran puguh. Enya, sok padahal eupanna sarua, tempat na ge teu beda, da balongna eta-eta keneh. Naha batur meunang ari kuring henteu? Naha ari lauk sok pulah-pilih jelema mun rek ngahakan eupan kitu?

Jigana mah ku tara meunang tea nya tungtungna teu resep weh kana usap-useup teh. Nepi ka ayeuna. Nu matak basa dua minggu kamari aya beja dunungan hayang nguseup di daerah kuring, geuwat neangan alesan supaya teu jadi. Pangpangna bisi manehna kuciwa. Ongkoh barudak sarua deuih euweuh nu tabah kana perkara nguseup teh. Nya kapaksa boboleh. Teu apal tempat nu alus, ceuk kuring ka si KTU. Untung manehna ngarti. Karunyaeun deuih, meureun. Bolay weh.

Tapi basa kamari barudak bebeja rek ngaruseup di Cirata mah, kuring rada obah pamadegan. Lain nanaon: teu kuat ku rudet. Rudet ku masalah nu geus sababaraha minggu ieu asa loba pisan daratang. Pikiraneun. Bari jeung can boga waktu jang ngalelerkeunana. Dipikir-pikir tibatan gering mikiran rurubed mending milu jeung barudak. Sugan we rada kabangbrangkeun.

Nya, gancangna carita, jadi weh kuring milu jeung barudak nguseup. Tempatna teu jauh. Ukur dua puluh menitan ti imah mah. Cenah mah ngaranna teh wewengkon Babakan Garut, masih bagean keneh waduk Cirata. Asupna ka kabupaten Cianjur. Jigana nu mimiti muka eta tempat teh urang Garut pangna dingaranan kitu ge.

Sabenerna taun katukang kungsi oge kuring jeung barudak nguseup di Cirata teh. Ngan harita mah niatna lain ngahajakeun nguseup wungkul, tapi piknik bari arisan ibu-ibu. Pedah bosen cenah unggal bulan di kantor bae. Sakali-sakali mah hayang diayakeun di luar. Nya nu dipilih teh Cirata. Salian teu pati jauh, oge bisa sakalian neangan lauk. Tapi lain Cirata nu ieu. Harita mah Cirata Purwakartana. Nu jalanna ka Cikalong. Tah, keur ibu-ibuna arisan bari balakecrakan, bapa-bapana ngaruseup.

Ari ayeuna mah beda. Niatna memang bener-bener rek nguseup. Nu matak nu arindit teh lalaki wungkul. Aya dalapan urang, katambah si Andri bungsuna Mantri. Alusna mah cenah indit teh nyubuh, ngarah jam genep geus bisa tagen di ditu. Ngan kusabab marake jam karet tea, rada kabeurangan. Tabuh satengah salapan karek nepi ka sisi situ. Sanggeus lima menit naek parahu, narepi we ka panguseupan.

Horeng di panguseupan teh geus sadia lima nepi ka genep rakit nu di luhurna dijieun saung-saung. Nya di eta saung nu ngaruseup teh nagenna. Basa kuring jeung barudak daratang, didinya geus nyampak sababaraha urang. Cenah mah aya diantarana nu geus dua poe di dinya. Hanjakal keur sepi, ceuk nu saurang.

Sanggeus milih rakit, nya langsung we nagen di posisi masing-masing. Nyaan tiis geuning. Meunang lauk leutik keur mimiti, tuluy kadituna nyamos. Nepi ka jam sabelas ngan nambahan dua siki deui. Sarua lauk leutik. Pas di gebluskeun kana korang langsung moncor deui. Tuda jaringna garede teuing. Ngalieuk ka batur, teu beda. Kesel, lapar, katambah mimiti karasa panas, direrema ku murak heula timbel. Geus kitu mah, nagen deui. Ari barudak tuluy ngacaprak silih poyokan bari tingirihil saleuseurian.

Nepi ka jam dua ngan nambah deui hiji nila sagede ramo, pleus tilu lauk leutik. Geus weh, kadituna mah euweuh nu noel-noel deui. Kesel nungguan, tuluyna mah ngagoler we luhureun rakit. Sakali-kali ngengklokan barudak nu tingcakakak. Ongkoh kalah tunduh. Jam satengah opat nu parahu nu neang datang. Tapi ceuk barudak engke wae jam lima, panasaran keneh cenah. Heug, ceuk kuring.

Tapi nepi ka jam lima angger wae. Tungtungna mah sapuk naraek. Basa beberes, kakarek engeuh sendal kuring euweuh sabeulah. Jigana ragrag tina rakit. Duka tuluy teuleum duka palid. Walhasil, balik nyeker. Untung Mantri haat mere sedal swalowna. Keun bae abdi mah nyandak sapatu, cenah.

Balik nguseup teu mawa lauk mah asa teu pantes. Ongkoh ki Oter mah diancam ku pamajikanna, mun teu mawa lauk tong balik cenah, tungguan we laut. Tungtungna mareuli dua kilo sewang ka bandar.

Di jalan, barudak nanya: “minggu enjing bade ngiring deui pa?”

Teu ah. Mending ngeblog! He...

Blog EntryKulan, Bobos?May 12, '07 11:51 PM
for everyone
KULAN, BOBOS?

Teuing tas ngadahar naon, si Endi teh ti isuk-isuk geus ngacaprak. Ti barang datang ka kelas, teu eureun-eureun manehna ngan ngacacang wae. Bari nu diomongkeuna teh teu puguh alang-ujurna.

Mabok sugan? Tapi sidik henteu. Panonna biasa wae, teu beureum teu sing. Malah cenghar pisan. Teu jiga jalma keur teler. Ongkoh deuih, da sanajan kaceluk jalma tukang jail ge, tara manehna mah kana unam – inum teh, ari lain nginum cikopi kabeukina mah. Atawa kasambet? Henteu deuih. Sorana angger sora manehna. Teu ngadadak ngagerem atawa cicirihilan, jiga sora-sora jurig di tipi. Leumpangna oge sabihara-bihari, teu jaregjreg.

Estu euweuh nu beda tina sareat mah.

Tapi naha kunaon bet kalakukanna jadi jiga nu kurang saeundan kitu. Boa-boa.... Ih bit ketang. Teu hade ngadoakeun goreng babaturan teh. Dosa ceuk aki Udin ge, inget keneh kuring mah. Kunaon atuh maneh teh Endi?

Ari nu diomongkeunana titatadi teh ngan dua kecap. Enya ngan dua kecap-dua kecapna. Bari jeung rada saru deuih. Punten we da kitu kanyataannana, rek di genti da bisi teu nyambung. Arek teu disebutkeun da eta nu masalahnya. Euh maksud teh, nu diomongkeunana teh kecap: “Kulan, Bobos?”, cenah. Ti isuk-isuk nepi ka arek bubar ngan eta-jeung eta we. Bari terus cakakak-cakakak seuri nempo batur ngahuleng teu ngarti teh.

Nu karunya mah si Aan, anu nanya sabener-bener, “Ndi, ari maneh Padaherangna dimana?” kalah dijawab “Kulan, bobos?” cenah. Atuh, jelema anu sakitu seriusna dijawab teu nyambung kitu, nya bek we ambek. Beungeutna baeud nepi ka bubaran. Padahal satadina mah maneh na teh nanya teh nembongkeun aya perhatian. Karunya meureun, pedah geus tilu taun di indit ti Padaherang sakola ka Ciamis, si monyong teh can kungsi kabejakeun aya awewe anu resepeun. Kari-kari aya anu nanya sabageur-bageur kalah dijawab kitu. Nya aruh saha nu teu nyeri hate. Ongkoh deuih da manehna mah teu rumasa tas bobos. Enya ge tadi sakali, pan ngahaja nyumput heula ka tukang, nguliwed. Atawa apaleun kitu?

Aya deui, si Abdul. Jigana manehna keur pararusing pedah motorna tas ditilang pulisi. Mangkaning engke teh geus jangjian rek ulin jeung si Mila ka Tasik, beuh .. pastina ge bakal ngambek tah si kumpay teh. Teu aneh mun ti barang datang teh manehna ngan jamedud we di bangku tukang. Euweuh nu daek ngabaturan ka manehna mah da sok ngahegak mun keur kitu teh. Atuh basa si Endi jol ngadeukeutan bari ngomong nu dua kecap teh langsung we rumpu-rampa neangan jang babukeun. Untungna we si Endi kaburu lumpat, jadi teu kungsi terjadi “perang saudara”.

Tah anu lucu mah jam terahir. Basa pas pelajaran pisika. Guruna pa Sarip katelah tukang heureuy. Harita teh keur nincak bahasan teori ‘atom.’

“Jadi,” terang pa Sarip, “atom teh berasal dari kata atomos. Ditemukan pertama kali oleh orang Yunani bernama Demokritos. Tapi da teu sawios-wios. Teu nuju nyeri waos. Mung memang teu gaduh artos. Kumaha kahartos?” cenah. Heureuy ti dituna mah.

Ana celengkeung teh si Endi ti tukang (bari jeung rada dipengkek, da apal sanajan resep heureuy ge pa guru teh katelah rada galak).

”Kulan, bobos?” cenah. Aya ku nyambung.

Atuh ger sarerea sareuri. Kuring sorangan nu ti tatadi ngabandungan kalakuan si Endi tangka rambisak tah.

Ari pa Sarip kalah rungah-ringeuh di payun. Jigana teu pati kadangueun tah caritaan si Endi teh. Ongkoh teu terangeun ti mimitina deuih.

: Panineungan waktos SMA di Ciamis. Ieu carios teh, sanajan rada diropea deui, leres-leres kantos kaalaman. Hapunten kanu namina kasebat. Sanes bade nanaon, ieu mah estu ukur kanggo ’nostalgia.’ Mudah-mudahan kamanah. Hehe.

Kanggo Endi, ”dimana maneh ayeuna euy?”

Blog EntryGenti PingpingMay 11, '07 10:01 PM
for everyone
GENTI PINGPING

IEU mah ceuk kang Didin, saurang gegedug LSM di Bandung. Harita, duka keur dina riungan naon, kuring, kang Didin jeung sababaraha urang deui guntreng ngarobrol. Tina urusan lingkungan, duka saha nu ngamimitian, der jejer catur teh los-los kana masalah ‘kejantanan.’

“Di BIB (Balai Inseminasi Buatan) Lembang mah, sapi teh sok diparaban jukut kiurat,” ceuk kuring. “Nu matak jaluna teh kuat dikawinkeun unggal poe ge.”

“Lamun ka jelema kumaha tah?” salah saurang nanya.

“Ceuk urang dinya mah cenah alus. Harita ge peserta studi banding teh nu geus karolot mah loba nu panasaran marawa sakeupeul sewang,” ceuk kuring deui.

“Lah, hayang sumanget deui mah gampang atuh,” tempas kang Didin, ujug-ujug.

“Kumaha carana?” nu sejen reang.

“Tinggal genti pingping,” cenah bari tuluy ngabarakatak.

Kabeh euweuh nu teu ngaheheh kagugu.

Blog EntryChelseaku SayangMay 7, '07 4:27 AM
for everyone
CHELSEAKU SAYANG, CHELSEAKU MALANG

>http://www.dmason.net/tmp/CFC.jpg">http://www.dmason.net/tmp/CFC.jpg" border="0" alt="" />PUNAH sudah harapan Chelsea mempertahankan gelar musim ini, setelah tadi malam ditahan imbang Arsenal 1 – 1. Padahal mereka membutuhkan kemenangan untuk menjaga peluang mereka mengejar MU. Terlebih mereka memiliki kesempatan memperkecil jarak Kamis depan, ketika harus menjamu pasukan Alex Ferguson itu di Stamford Bridge, yang digadang-gadang sebagai pertandingan “the real final”. Apa lacur, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Pasukan the Blues mencapai antiklimaks terlalu cepat. Ini seakan melengkapi derita kekalahan menyakitkan adu pinalti dari Liverpool di Liga Champion minggu lalu. Sungguh menyakitkan.

Mestinya memang Mourinho menangisi kepergian Gallas ke Arsenal musim ini. Benar, mereka mendapatkan Ashley Cole, yang dianggap masih terbaik di posisi bek kiri. Tetapi akibatnya Mourinho kehilangan pelapis yang pas untuk Terry dan Carvalho disaat keduanya tak bisa tampil, baik karena cedera maupun akumulasi kartu (dan faktanya memang di musim ini keduanya cukup sering tak bisa tampil justru di saat-saat menentukan). Khalid Boulahrouz yang tadinya dipersiapkan ternyata sungguh mengecewakan (puncaknya adalah blundernya tadi malam). Mourinho malah seringkali harus bereksperimen menarik Essien ke belakang. Meskipun cukup efektif, namun beberapa kali sempat menyebabkan mereka kehilangan angka, terutama di awal-awal ketika Essien harus beradaptasi, yang membuat mereka terus tertinggal poin dari MU. Mundurnya Essien juga menyebabkan mereka kehilangan penggedor dari lini tengah. Jadi PR untuk musim depan pertama adalah: mencari pemain belakang, terutama Stopper, yang tangguh. Kalau bisa yang berkharakter seperti Gallas, yang bisa bermain di segala posisi.

Mourinho pun harus mulai merancang kembali pola permainan yang akan dipakai, terutama disesuaikan dengan kharakter pemain yang ada. Karena yang cukup terasa berkurang di musim ini, dibanding dua musim sebelumnya, adalah produktivitas gol. Banyak orang berpendapat ini akibat mandulnya Sheva, sebagai tandemnya Drogba, yang tadinya sangat diharapkan. Sekilas ini benar. Terbukti memang musim ini “The Blues” sangat bergantung pada Drogba. Tetapi sebenarnya hal ini tidak lepas dari pola permainan yang diterapkan Mourinho.

Masuknya Ballack di sektor tengah, yang malah menjadi salah satu pemain “The Untouchable” Mourinho, menyebabkan berkurangnya jatah satu pemain di gelandang. Ini karena peran Ballack yang cenderung tak jelas. Membantu penyerangan, jelas menjadi tugas yang sejak semula diemban Lampard. Sementara yang berperan sebagai gelandang bertahan lebih tepat bila dilakukan oleh Makalele atau Obi Mikel. Walhasil, peran Ballack hanya menjadi perantara belaka. Membantu penyerangan dan membantu pertahanan. Memang, sektor tengah jadi lebih kuat karenanya, tetapi kharakternya menjadi lebih defensif, karena harus mengorbankan satu posisi di sayap, yang sebenarnya sebelumnya menjadi inti kekuatan Chelsea. Kita tahu di sana ada Joe Cole, Arjen Robben dan Shaum Right-Philip, yang sangat cepat.

Rotasi pemain juga harus mulai sering dilakukan. Ini karena musim depan, selain main di liga Priemer, Chelsea juga harus berlaga di banyak turnamen. Mourinho tak lagi harus bergantung pada beberapa pemain inti, yang bila mereka tak bisa main menyebabkan pola permainan yang kalang kabut. Dalam hal ini Mourinho agaknya harus belajar pada Rafael Benitez, yang sukses menerapkan sistem rotasi di Liverpool, tanpa banyak mengurangi kekuatannya. Pemain-pemain muda harus sering diberi kesempatan, untuk menjaga regenerasi. Yang perlu dipikirkan juga adalah mencari tandem yang lebih tajam buat Drogba. Sheva agaknya kurang bisa diharapkan. Apalagi mengingat usianya yang juga tak lagi muda.

Selain itu, yang juga sangat penting adalah menjaga stabilitas tim. Ketidak-akuran Mourinho dan Abramovich yang sempat mencuat, mau tak mau berpengaruh pula bagi motivasi para pemain. Abramovich harus lebih belajar bersabar, karena tekanan yang berlebih justru juga tak bagus. Terbukti musim ini. Tekanan harus meraih quadruple, malah membuat Terry cs. kerap grogi, sehingga banyak menyia-nyiakan kesempatan. Kini harapan hanya tinggal di piala FA (selain piala Carling yang sudah ditangan tentunya).

Demikianlah, musim ini harus menjadi pelajaran dan introspeksi buat Mourinho dan jajaran The Blues pada umumnya. Biar saja, gelar hilang untuk sementara. Tahun depan kita ambil lagi. Dan yang penting, pertandingan melawan MU Kamis depan dan di final piala FA: harus menang!

Gimana Om Mo?

Blog EntrySambel JaerMay 6, '07 6:06 AM
for everyone
SAMBEL JAER

NAON ari sambel jaer teh? Tetela cenah, eta teh ngaran kaolahan urang Sunda (utamana nu hirup di pasisian) jaman baheula. Teu baheula-baheula teuing ketang, paling itungan lilikuran taun katukang. Boa di pelemburan mah ayeuna ge masih aya keneh nu sok pirajeunan nyieun. Na jiga kumaha rupana jeung kumaha nyieunna? Tangtuna wae tina lauk, hususna lauk jaer (nu ngaleuya di pakampungan mah). Jaerna alusna mah kudu nu dadak, meunang nguseup atawa nyair.

Tah si lauk Jaer teh langsung we dikurusukeun kana ruhak. Tangtuna ge samemehna dibedelan heula. Ngan teu kudu disisit. Teu kudu diuyahan deuih. Mun geus katingali asak, kakarek sisitna nu harideung dikerik. Tuluy nyiapkeun samarana kayaning cikur, jahe, bawang beureum, uyah, cengek jeung gula. Eta samara teh laju direndos dihijikeun jeung jaer meunang meuleum tea bari jeung dikucuran cai saeutik. Jadi weh. Kumaha rasana? Leuh, cenah, sanajan rupana teu pikauruyeun ge (kataksir rada ledeg), ceuk nu kungsi ngarasaan mah, pelem pisan. Ngadaharna dicocol ku sangu poe atawa bisa langsung digalokeun kana sanguna. Kutan?

Barudak ayeuna tangtu jarang, malah jigana moal aya, nu nyahoeun kana kaolahan model sambel jaer. Dalah kuring ge, nu kungsi gede di pasisian, asa inget-asa henteu. Padahal keur kolot-kolot baheula mah, aeh budak baheula maksudna mah, enya, nu jaradi kolot ayeuna, eta teh sasat deungeun sangu primadona. Mun balik sakola teu nyampak deungeun sangu teh, tara sing pundung jiga barudak ayeuna, deker we nguseup. Ngaracik sambel jaer. Kumaha ari etim peda, tutug oncom, pencok hiris jeung angeun turubuk? Nyeta sarua bae. Eta rupa-rupa kaolahan teh geus arang langka kapanggih ayeuna mah. Tangtuna ge kusabab geus jarang dijarieun. Tutug oncom onaman masih osok keneh loba disayagikeun di restoran-restoran Sunda.

Naon deuih cenah ieu teh ngadon nyaritakeun dahareun? Hih, lain nanaon. Pedah we dua minggu katukang pareng manggih buku Kang Asep Ruhimat –- saurang guru tur pangarang Sunda nu kungsi dileler anugrah R. Soeria Diradja (2003/2004) jeung Setia Permana Award pikeun karya-karya tulisna-- di Gramedia, nu judulna Sambel Jaer: Tali Paranti, Palakiah, Kaolahan & Pantangan Urang Sunda. Ku sabab panasaran ku judulna der we dibeuli. Lumayan murah, ngan 17.500-an. Pareng dibaca, horeng resep oge geuning.

Naon bae cenah eusina buku teh? Lumayan leubeut. Utamana loba nyaritakeun gambaran kahirupan urang Sunda di pasisian, puluhan nepi ka lilikuran taun katukang. Hususna di wewengkon priangan wetan, kayaning Ciamis, Tasik, Garut jeung sabudeureunana, lembur asal nu ngarangna. Sok sanajan bisa wae hal nu dicaritakeun teh kapanggih oge di wewengkon Sunda sejenna.

Salian ti nyaritakeun rupa-rupa kaolahan jaman baheula, samodel nu ditataan tadi, dina eta buku urang bakal manggih rupa-rupa tatali paranti (tradisi) kolot-kolot urang jaman harita, nu bisa jadi ayeuna mah geus loba dipohokeun. Model kumaha carana ngurus orok, ti lahir nepi ka diajar leumpang. Rupa-rupa kapamalian, samodel budak parawan tong nguah cowet bisi meunangkeun aki-aki. Aya oge palakiah-palakiah, nu sanajan teu asup akal tapi loba maunatna. Contona barudak jaman baheula mah mun ulin teh sok mesakan batu laleutik tilu siki. Eta teh cenah malar teu hayang ngising teu pupuguh. Bab Totonden mah nyaritakeun kapercayaan urang lembur ngeunaan rupaning tanda-tanda alam, samodel naon hartina mun aya caringin rungkad, jeung sajabana.

Aya ge bab-bab nu nyaritakeun model-model imah jeung perwatekan kuda. Bisa jadi nu ieu mah geus moal kapanggih dina kaayeunaan. Enya, ayeuna mah apanan geus arang model-model imah julang ngapak atawa badak heuay. Capit gunting atawa tagog anjing. Oge, geus tara aya nu pirajeunan ngingu kuda, ari lain rukang delman mah. Tuluy aya oge bab nu nyaritakeun karamean nyanghareupan bulan puasa di pilemburan, ti mimiti kuramas nepi ka lebaran.

Bab Ngala Lauk jeung Rupaning Kaulinan mah nyaritakeun kabiasaan barudak jaman baheula. Samodel, naheun bubu jeung ngabungbun. Atawa kaulinan baren jeung gobag. Kuring sorangan masih ngalaman kana dua kaulinan eta mah. Sok resep mun pasosore, samemeh ka masjid, maen gobag di jalan aspal hareupeun imah. Balik-balik tangka ngoprot kesang.

Horeng bener dunya teh teu angger. Salawasna barobah. Nu baheula jadi kabiasaan, ayeuna mah geus beda deui. Kitu satuluyna. Ngan sabisa-bisa urang teh tong gampang teuing pareumeun obor, mopohokeun nu geus kaliwat. Sabab eta teh jati diri urang. Nu geus ngabentuk urang jadi hiji bangsa anu mandiri. Nu beda ti nu lian. Sanes kitu?

Nu matak mangga geura parilarian tah buku!

Blog EntrySeorang LelakiApr 29, '07 2:33 AM
for everyone
SEORANG LELAKI, SUATU SORE

Wajahnya terlihat sangat cemas dan putus asa ketika ia datang sore itu --setelah beberapa menit sebelumnya menelpon.

"Kenapa?" tanyaku.

"Hamil di luar kandungan. Kata dokter harus segera dioperasi. Hari ini," jawabnya hampir tak terdengar, "saya tak tahu harus kemana lagi." Kepalanya terus tertunduk.

"Berapa yang diperlukan?" tanyaku, lagi.

"Biaya operasi seluruhnya enam juta, Pak. Pihak rumah sakit mensyaratkan uang muka satu setengah juta. Saya sudah berusaha mencari, hanya ada lima ratus."

Aku termenung sesaat. Negeri ini memang kejam bagi orang-orang tak berdaya seperti dia (dan ini bisa terjadi pada kau, aku, semua dari kita). Mereka-mereka yang terkena musibah, bukannya mendapatkan perlindungan dan penentraman, tetapi malah jadi perahan. Jadi ladang menumpuk kekayaaan bagi sebagian orang --dimanakah keadilan?

Ketika mendapatkan apa yang diminta, dia tak sanggup menahan tangisnya. Air matanya bedah.

"Pergilah," kataku. "Istrimu menunggu."

Dia masih sesenggukan ketika melangkah cepat menuju arah jalan.

HAYU CUANG NYABU

Aya Dina Kumis Deui

Aya kutu teuing ku mahiwal. Manehna hayang nyayang jeung bumetah dina bubuluan sakur artis jeung tokoh-tokoh kawentar. Sanajan hese beleke, ahirna eta kutu teh bisa nyayang dina ...kelek Mike Tyson.

Tapi sabada sababarahan poe manehna nyayang dina kelek Mike Tyson, eta kutu teh ngarasa teu betah, lantaran kelek Mike Tyson mah pohara bauna. Saterusna eta kutu gura-giru pindah, sarta ku sumanget keung akalna, eta kutu teh ahirna nyayang dina ... kumis Charles Bronson.

Ngan edas we, abong Charles Bronson mah bentang film kasohor jeung loba kabogohna, eta kutu teh ngalaman tibabaranting sababaraha kali, lantaran Charles Bronson mindeng pisan silih cium jeung bentang-bentang film awewe sejenna. Ahirna eta kutu teh ngarasa teu betah, sarta manehna usaha satekah polah hayang pindah tina kumis Charles Bronson kana ... “taeun” Madonna.

Tapi orokaya, sanggeus eta kutu bisa nyayang dina “taeun” Madonna, hiji mangsa manehna nundutan nepi ka sarena. Dina mangsa manehna keur sare, Madonna teh tepung jeung Charles Bronson lantaran maranehna boga jangji rek sare bareng.

Ari kutu tea, manehna pohara kagetna waktu hudang sare horeng manehna jadi aya deui dina ... kumis Charles Bronson?


KAPIASEM? Tangtos. Eta guguyon teh aya dina buku enggal kang Opik (Taufik Faturahman), si raja guguyon tea, nu judulna angger Sabulangbentor, ngan ayeuna mah ditambuhan angka 2 jeung 3 deuih sakaligus, kumargi Sabulangbentor nu munggaran mah apan tos medal sababaraha taun kapengker. Naha meuni langsung dua jilid? His, sanes ngan ukur dua malah, cenah mah aya dugi ka tujuh jilidna. Leuh!

Eta guguyon-guguyon teh kenging ngabeundeulkeun tina rubrik nu judulna sami nu unggal Minggu midang dina koran Galamedia. Ceuk kang Opik dina Panganteurna, basa buku Sabulangbentor kahiji medal teh saleresna mah bade langsung disusul ku jilid ka-2na. Ngan cenah, bundelan naskahna teh ujug-ujug leungit duka kamana. Anyar-anyar, eta bundelan naskah teh kapendak deui basa edisi rubrik Sabulangbentor nincak kana nomer 300. Atuh mokaha basa diranjing-ranjing teh cukup jang 7 jilideun. Nya sakalian we cenah.

Ari diterbitkeunna angger keneh ku Geger Sunten. Tiap jilid dipasihan judul nu mandiri. Jilid kadua dijudulan “Tabib India”. Jilid katilu “Ngeunah Keneh Inem.” Jilid kaopat “Festival Dosol”. Jilid kalima “Humor Persib jeung Homur Mengbal Sejenna”. Jilid kagenep “Humor-Homor Politik”. Nu katujuh mah “Kumpulan Tarucing jeung SMS lucu”. Jilid kadua jeung katilu medal bulan Januari 2007. Pami ti jilid kaopat depi katujuh mah duka tos medal duka teu acan, dan can katingali di Gramedia.

Eusina tangtos pikalucueun. Aya nu ukur matak mesem, aya oge nu nepi ka matak nyeri kulit beuteung. Gayana angger gaya heureuy khas kang Opik, anu basajan, sakarep-karep (ngaranna ge sabulangbentor), sakapeung cerdas, tur rada-rada cawokah, model nu ditulis di luhur. Buku jilid kadua midangkeun 178 guguyon sedengkeun jilid katilu meungkeut 122 guguyon. Jejerna rupa-rupa. Aya heureuy ngeunaan urang-urang Sunda (nu ti kampung tangtuna ge) nu sok pabaliut palebah ngomong mamalayuan (nu kieu mah ku nu nulis ge remen kaalaman). Aya oge heureuy-heureuy ‘santri,’ model naon cenah bedana telepisi jeung pangajian. Jawabna telepisi mah “Dunia dalam Berita” ari pangajian mah “Aherat dalam berita”, jeung sababaraha hiji deui. Ari humor-humor cawokah mah biasa diteundeun di bagian panungtung.

Lah pokona mah cobian we geura pilari ku nyalira. Pami tos kenging, hayu cuang sasarengan nyabu ... langbentor!

Blog EntryKedah Aya Frank LampardApr 20, '07 6:47 AM
for everyone
KEDAH AYA FRANK LAMPARD

KOCAPKEUN sanggeus puteran liga Inggris taun 2006/2007 rengse, sakumaha nu geus diiburkeun samemehna, Jose Mourinho memang ahirna ninggalkeun kleupna, Chelsea, nu geus salila tilu taun dimenejeran ku manehna. Weuh, tangtuna ge loba pamilik kleup Eropa nu ngahiap-hiap. Rek teu kitu kumaha tuda, Jose Mourinho teh kawentar hiji palatih anu jenius tur boga leungeun anu tiis (bertangan dingin maksudna mah). Eta buktina, Chelsea anu samemehna can kungsi juara Liga Premiere, ti saprak dimenejeran ku manehna mah dadak sakala jadi hiji kleup anu dipikagimir sa-Eropa. Atuh Alex Ferguson palatih Manchester United (MU) jeung Arsene Wenger palatih Arsenal anu salila ieu piligenti ngarajaan Liga Inggris, dijieun teu bisa hojah. Dua taun tuluy-tuluyan Chelsea jadi jawara Liga Premiere kalayan poin anu anggang pisan jarakna. Ngan taun 2007 wungkul nu rada ragot teh, eta ge pedah loba pamaenna anu tatu. Nu matak, kleup-kleup nu baleunghar di Eropa kayaning ti Spanyol atawa Itali mah langsung wae paheula-heula ngajukeun tawaran paluhur-luhur.

Ngan nu matak helok nyaeta kleup nu dipilih Kai Mourinho pikeun jadi pangentreupanana dina musim taun 2008. Lain Real Madrid atawa Inter Milan anu ti samemehna ngudag-ngudag bari ngajangjikeun bayaran anu luhur, tapi estu kleup anu jauh tina panyangka balerea. Enya, Mourinho teh geuning kalah milih pindah ngalatih di Indonesia, tur kleup nu dipilihna teh taya lian ti: Persib, maung Bandung tea. Atuh geunjleung sakabeh ‘insan permengbalan sa-dunya.’ Loba nu manghanjakalkeun kaputusan Mourinho nu kalah pindah ngalatih ka hiji nagri anu prestasi mengbal tim nasionalna ge teu menyat-menyat. Aya nu nyangka yen Mourinho prustasi pedah salila di Chelsea dibaeudan bae ku Abramovich anu medit dina meuli pamaen. Aya oge nu nyebutkeun yen Mourinho geus koslet uteukna pedah salila tilu taun ngalatih di Liga Inggris tuluy-tuluyan meunang ‘tekanan’ anu kacida beuratna.

Tapi teu saeutik oge ketang, khususna jelema-jelema anu tara suudon, anu nyambut positip kana kaputusan Mourinho teh. Maranehna nganggap yen kaputusan Mourinho teh sanajan kawilang nekad tapi mangrupakeun hiji hal anu positip tur ngabuktikeun yen manehna teh jelema nu ‘haus tantangan’. Enya teu beda jeung basa Valentino Rossi mutuskeun pindah ti Honda ka Yamaha, apanan jiga kitu tah. Hayang neangan tangtangan anyar cenah, ceuk si Doktor. Ngan meureun pedah ieu mah ekstrim pisan. Ti hiji kleup beunghar di nagri nu kompetisina paling alus sadunya ka hiji kleup di hiji nagara berkembang anu prestasi mengbalna teu weleh matak ngaheruk. Tapi justru eta teh cenah bisa jadi ‘ajang pembuktian’ jang Mourinho. Mun pareng bisa mawa Persib muncul jadi hiji kakuatan di Asia atawa dunya tangtuna ge bakal nyababkeun ngaran Mourinho beuki seungit tur nunjukeun yen kamampuh dirina salaku palatih teh memang bener-bener ‘brilian’, lain pedah ngandelkeun pamaen bentang wungkul. Enya, jiga basa Guus Hidink bisa mawa kasebelan ...eh kasabelasan Korsel jadi juara opat di Piala Dunia 2002 apanan matak gehger jalma sadunya. Nu nyababkeun Guus Hidink dipuja-puja pisan di Korea mah. Naha mana nu bener? Duka tah. Can aya nu bisa mastikeun, sabab Mourinhona ge jiga nu teu puruneun ngabahas sual eta.

Hal nu matak panasaran oge nyaeta naha milihna teh ka Persib, lain ka... Persija, misalna, anu biasana wani mayar leuwih gede jaba salaku kleup ibukota. Apanan Chelsea ge, enya kleup manehna manten, markasna teh di London, ibu kota Inggris. Atawa naha teu milih Persik, anu jadi juara dina taun 2006, atawa kleup-kleup sejenna. Naha kudu Persib? Kateuing atuh. Apanan nu ngarang ge geus nyebutkeun yen kunaon pindah ngalatih ka Indonesia ge can bisa kajawab, komo pertanyaan nu ieu. Tapi ketang hayang-hayang teuing mah keun bae rek dibejakeun saeutik rusiahna. Cenah ieu ge, duka bener, duka henteu. Ngan pedah ieu inpo teh bejana meunang ti ‘orang dalam anu terpercaya’ nu nyaho pisan kana proses kumaha ngusahakeun Mourinho pindah ka Persib. Tapi ieu mah rusiah pisan. Omat teu menang diucah-aceh sambarangan, bisi kadengeeun ku jinisna sok komo kadengeeun ku The Jack mah. Kitu tah implik-implikna beja teh. Duka pedah naon.

Sabenerna, cenah, ieu kabeh teh alesanna mah aya hubunganna jeung kabeuki Mourinho anu rada mahiwal. Enya, bejana Mourinho teh mun dahar kudu wae make ... kurupuk. Salila ieu pihak kateringna Chelsea teh unggal bulan ngimpor kurupuk ti Indonesia husus yang Kai Jose teu kurang ti dua ton. Ngan kusabab dibawana jauh tea, bisa jadi loba teuing kaangin-angin di jalan, nepi ka London teh kurupukna sok loba nu geus laleuleus. Atuh teu kapuluk. Mun geus kitu Kai Jose sok tara ngeunah dahar. Tungtungna murang-maring, mindeng ambek-ambekan ka wartawan. Naha ti iraha Mourinho nu urang Portugal beukieun kana kurupuk? Duka tah perkara eta mah, nu ngarang ge can kapikiran. Ngan ameh tereh, percaya we yen bener Jose Mourinho teh kabeukina kurupuk. Bisi teu percaya, tanyakeun we langsung ka jinisna.

Tapi pan kurupuk mah dimana-mana ge aya, lain di Bandung wungkul? His, lain kurupuk sambarangan ieu mah. Cenah mah kurupuk kalandep Kai Jose teh ngan kurupuk ti Cikoneng. Enya Cikoneng Ciamis tea geuning. Cenah Gurihna matak Mourinho deudeuieun. Naha kudu kurupuk Cikoneng? Hih, ceuk nu ngarang ge tong loba teuing tatanya ke nu maca beuki lieur, komo nu ...ngarangna. Geus we anggap kitu. Moal matak nambahan hutang ieuh.

Tah, kusabab nu pangdeukeutna ka Ciamis teh iwal Bandung, nya ahirna Mourinho teh milih jadi palatih Persib. Jadi bisa ngagares kurupuk Cikoneng saseubeuhna jeung dijamin rarangu keneh deuih. Mokaha, hal ieu teh atuh teu wudu matak atoh pikeun para bobotoh jeung umumna urang bandung mah. Saha nu teu atoh atuh kasabelasan kareueusna ayeuna menangkeun palatih kelas dunya. Tangtu wae harepan bakal juara Ligina tur bisa ‘berbicara di tingkat Asia’ teh bakal jadi kanyataan ayeuna mah. Piraku sugan ari dilatih ku palatih kelas dunya mah.

Orokaya, sanajan manehna boga alesan pribadi pikeun pindah ka Bandung, Kai Jose teh geuningan angger menta bayaran anu lumayan gede. Manehna ngajukeun sarat nyeta gajihna kudu leuwih atawa minimal sarua jeung waktu di Chelsea. “Piraku wae atuh turun pa Wali,” cenah. “Apanan UMR ge unggal taun teh naek,” tambahna. Ku sabab kacintana ka Persib nu kacida gedena, tur mikir yen tawaran jiga kieu teh moal datang dua kali, tungtungna Pa Walikota nyanggupan kana kahayang si menir Parasman. Ngan basa diitung-itung ku biro keuangan manehna ngarenjag sorangan, sabab gajih Kai Jose teh geuningan sed saeutik jeung jumlah APDB kota Bandung ... satauneun. Beu!

Bingung ku hal eta tuluy Pa Wali ngayakeun konsultasi jeung anggota Dewan. Teu disangka-sangka para angota dewan anu tetela kabehna ge bobotoh panatik teh malah nyaluyuan tur ngarojong pisan kana usulan Pa Wali. Eta cenah APBD beak teu jadi masalah nu penting Persib nanjung. Para inohong jeung masarakat kota oge ngarojong pisan kana hal eta teh. Keun bae sual pangawangunan mah cenah, masarakat sapuk rek kerja bakti atawa swadaya. Para pagawe nagri, pemda, anggota dewan malah Pa Walina sorangan kabeh ihlas teu digajih. Maranehna kabeh ‘rela berkorban’ pikeun cita-cita Persib unggah ka ‘pentas dunia.’

Singget carita, Kai Jose Mourinho resmi jadi palatih Persib. Ngan kusabab waragadna geus beak jang mayar Kai Jose tea, para pamaen Persib anu dipilih teh pamaen lokal bae. Eta ge husus anu rido teu digajih atawa digajih sawilasana. Da anu butuheun keneh ku bayaran mah ngahaja disina pindah. Atuh pamaen asing nu samemenha maen di Persib kayaning si Barkowi, Cabanas, Bekamenga, Nyeck jeung si Jimenez betah-betah keneh ge milih balik ka nagrina sewang-sewangan. Teu puruneun maranehna ari kudu teu dibayar mah. Heu, da kaharti deuih, maenya cicing di lembur batur bari teu boga panghasilan, kateuteuari. Nya antukna nu nyesa teh ngan para pamaen lokal wae ditambah sababaraha hiji ti junior. Tapi hal eta teu jadi halangan jang Kai Jose. Kangaranan palatih propesional mah kudu bisa gawe dina sagala kondisi. Kai Mourinho jangji rek ngetrukkeun sakabeh kabisana pikeun mawa Persib kana kajayaan.

Ti poe ka poe menir Jose mere program-program pelatihan jang sakabeh pamaen. Pangalamanna nu kungsi ngalatih kleup-kleup gede kayaning Porto jeung Chelsea dipake dasar pikeun nangtukeun strategi nu diterapkeun di Persib. Ngan orokaya, tetela teu sagampang anu diharepkeun. Masing palatihna jenius ge ari bahanna sakitu-kituna mah geuning teu loba mawa perkembangan.

Atuh basa prung Liga Indonesia musim 2008 ge permaenan Persib tetela teu pati nyugemakeun. Nepi ka tujuh kali pertandingan mimiti, Persib ngan ukur bisa dua kali meunang, eta ge di kandang, tilu kali drow, sesana eleh. Atuh posisina ge ngan aya di papan tengah. Tangtuna ge ieu teh loba nimbulkeun protes ti masarakat nu kabeh ge ngarahna ka Pa Walikota. Eta meureun pedah dana APBD nepi ka koredasna apanan jang ngabiayaan Kai Jose teh. Sanajan mimitina sumanget pisan ngarojong, tapi ari geus prakna mah geuning loba oge nu ngarasula.

Mimitina mah Pa Walikota teu pati malire kana hal-hal eta. Anjeunna ngama’lum yen palatih anyar kudu adaptasi heula. “Sabar,” kitu papatahna ka rombongan panglima Viking nu datang unjuk rasa, “kabeh ge butuh waktu.” Tapi lila-lila mah Pa Walikota hareudang oge. Komo deui pada nyundutan ku pagawena nu reang pedah geus tilu bulan teu meunang gajih. Najan kitu, Pa Wali teu wani gagabah. Bubuhan urang Sunda nu handap asor, tur nyaho adat Kai Jose anu gede ambek, Pa Wali ati-ati pisan dina nunjukeun kateusugemaanana.

Dina hiji sore, bari merhatikeun para pamaen nu keur latihan, Pa Wali nanya ka Kai Mourinho.

“Cing Kang Mo, kumaha ieu teh kinten-kintenna Persib tiasa janten juara moal musim ieu?” ceuk Pa Wali ngolongan.

“Tiasa bae Pa Wali,” tembal Kai Jose kalem, “asal ... kedah aya Frank Lampard,” cenah teu riuk-riuk.

Pa Walikota ngan ukur bisa ngaheneng.

Blog EntryBerita Kecelakaan...Apr 18, '07 2:16 AM
for everyone
BERITA KECELAKAAN, KEPONAKAN YANG LUCU
DAN KETEMU MANTAN PACAR


SENIN pagi sebuah telepon mengejutkan datang dari sepupuku di Ciamis yang mengabarkan adik bungsu saya mendapatkan kecelakaan motor. "Tabrakan, A," katanya. Ketika saya keadaannya, ia tak memastikan. Tentu saja saya kaget dan panik. Apalagi ketika saya coba menghubungi hp adik saya itu tak juga tersambung. Akhirnya saya memohon izin pada atasan untuk pulang dulu ke Ciamis memastikan apa yang terjadi sekaligus memohon maaf untuk tidak menemaninya melakukan sebuah presentasi pagi itu.

Setelah izin didapat, saya langsung memacu si Merah menuju Ciamis. Untung saja saya sudah menyiapkan pakaian beberapa potong baju ganti plus alat mandi sehingga tak harus pulang dulu ke rumah. Di tengah jalan, bibi yang tinggal di Bandung menelpon menanyakan berita itu. Rupanya dia juga sudah mendapatkan kabar. Saya jawab saya tak tahu pasti, dan sekarang sedang di jalan menuju ke Ciamis.

Untungnya jalanan sangat lancar sehingga tak ada gangguan apa-apa. Sampai Tasik sebuah sms tiba. Adik saya mengabarkan kalau keadaannya baik-baik saja. Saya bersyukur dan lega, namun karena tanggung saya tetap meneruskan perjalanan, setelah sempat berhenti sebentar untuk makan soto betawi karena belum sarapan. Tiba di rumah keadaan pasti baru didapat. Ternyata kejadiannya bukanlah tabrakan seperti yang dikabarkan di telepon. Dia hanya kesenggol motor lain ketika akan berangkat kuliah naik motor diantar pamannya. Namun cederanya cukup parah juga. Sikut kanannya retak dan nampak dibalut. Katanya sudah ditangani oleh ahli tulang tradisional. Karena penasaran, sorenya saya ajak untuk difoto rontgen. Dan memang terlihat tulang sikutnya ada yang nyempal meski ukurannya kecil.

Paman saya bercerita bahwa kecelakaan itu terjadi karena kepanikan si pengendara motor karena melihat ada polisi di depannya. Merasa takut karena tak membawa surat-surat kendaraan dia bertindak gegabah sehingga menyebabkan motornya menyenggol motor yang dikendarai paman dan adik saya.

"Kalau gitu yang salah polisi dong," kata saya di depan paman yang lain dan suami adik sepupuku yang juga anggota polisi.

"Ya salah dia sendiri, kenapa polisi kok ditakuti," bela mereka. Rupanya mereka gak sadar, kalau polisi memang banyak ditakuti. He...

Lepas dari peristiwa itu, pulang ke Ciamis memberikan saya kesempatan untuk bisa melepas rindu kepada keponakanku (putri dari Adikku yang tengah yang berusia 2 tahun) yang biasa saya panggil si Ngekngok (yang membuat ibunya senewen karena panggilan itu). Anak kecil memang selalu membuat rindu. Ketika saya datang dia langsung datang menyambut. "Uwa....," katanya sambil langsung naik ke pangkuan. Ketika orang lain (paman-paman, dan sepupu-sepupuku) mengampiriku, dia marah. "Uyah....uyah...," katanya. Maksudnya Ulah, artinya kira-kira "Jangan ganggu". Kata ibunya dia memang sangat apet (akrab) pada laki-laki. Mungkin kangen sama bapaknya yang kini tengah berada di Jepang.

Sorenya, saya kontak seorang teman lama yang kini bertugas di Ciamis. "Saya sedang di GOR, sini aja," jawabnya di SMS. Saya pun menuju tempat yang ditunjukkan, meski sempat heran dalam hati, "emangnya di sana ada GOR?" Ketika sampai, saya berdegup karena tempat itu sangat saya kenal. Tentu saja, karena GOR itu terletak di depan rumah seseorang yang beberapa tahun yang lalu sempat membuat saya sering tak nyenyak tidur. Turun dari mobil, saya mendapatkan seorang wanita sedang berdiri di depan rumah itu, sepertinya sedang menunggu sesuatu. Ragu-ragu saya sapa dia. Dia nampak kaget, "Avid?" katanya.

Dia adalah Cimon (Cinta Monyet) saya waktu kelas 1 SMP. Kami dulu sekelas. Dia adalah gadis tercantik di kelas itu dan saya adalah (bukan nyombong :)) 'bintang pelajarnya'. Maka tak heran jika kami saling tertarik. Saya tertarik pada kecantikannya, dia mungkin kagum pada kemampuanku menjawab soal-soal matematika dan fisika dengan cepat, meski waktu itu saya juga memiliki stereotif 'orang pintar' yaitu: kaku dan membosankan untuk cewek. Gadis-gadis jaman itu memang masih menghargai intelektualitas.

Bisa dikatakan dia adalah cinta pertama saya. Saya jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu. Masih terbayang waktu itu hari pertama kami masuk sekolah. Saya terpana melihat seorang gadis cantik berambut panjang dengan bando merah duduk di bangku kedua dari depan. Langsung saja hari-hari saya tak lepas dari bayangan wajahnya. Kami pun kemudian dekat. Apalagi karena juga sering dijodo-jodoin teman-teman. Beberapa kali janjian untuk main bersama, tentu saja bareng teman-teman. Ngaliwet, berenang, belajar kelompok ataupun sekedar jalan-jalan. Sayang, hari-hari itu tak lama. Ketika naik kelas dua dan kami berbeda kelas kami pun semakin jauh. Namun, maklum Cinta Pertama, kenangan itu tak pernah lepas dari kepalaku sampai bertahun-tahun kemudian.

"Kok ada disini?" tanyanya, menyadarkanku.

Dia masih terlihat... cantik. Meski tentu saja jauh lebih cantik 17 tahun yang lalu. Seingat saya kami sudah sekitar 11 tahun tak bertemu muka. Terakhir saya melihatnya ketika pesta kelulusan antar SMA yang tahun itu dilakukan bersama-sama di Alun-alun Ciamis (saya dan dia berbeda SMA).

Saya katakan mencari teman yang sedang main bulu tangkis di GOR belakang.

"Avid sekarang kerja di Perhutani?" tanyanya lagi.

Saya heran juga kenapa dia tahu teman saya adalah orang Perhutani. Saya jawab iya, namun bertugas di Bandung. Obrolan kemudian beralih kepada keadaan masing-masing.

"Saya kurus ya sekarang," katanya, "maklum capek ngurus anak."

"Memang anaknya berapa?" tanya saya.

"Dua, Avid?"

"Saya mah masih bujangan." Kataku tertawa.

Obrolan tidak belanjut lama. Selanjutnya saya mohon ijin untuk ke belakang dulu menemui teman tadi. Ternyata dia masih bermain. Ketika selesai, saya bercerita tentang pengalaman ketemu mantan pacar tadi.

"Perasan dulu mah cantik banget, sekarang kok biasa-biasa saja ya?" Kata saya sambil tertawa-tawa.

Beberapa waktu kemudian, saya kaget ketika dia masuk GOR sambil membawa makanan. Rupanya teman saya tadi memang memesannya. Yang saya heran, kenapa dia yang menghidangkan. Baru saya tahu kemudian, bahwa GOR ini adalah punya orang tuanya.

"Baru ya? Perasaan dulu belum ada?" tanya saya. Ia mengiyakan.

Kami pun kemudian mengobrol lebih banyak lagi. Tentang teman-teman SMP dulu, tentang cerita masing-masing. Perasaan, baru kali ini saya bisa ngobrol lepas dengan dia. Mungkin karena sudah sama-sama 'tua'. He he. Ketika saya tanyakan mana suaminya, dia menjawab:

"Tuh yang lagi main," jawabnya.

"Hah?" saya kaget. Orang tinggi besar itu ada di dekat sana ketika saya bercerita tadi.

Duh, mudah-mudahan saja dia tak mendengarnya. He he...

Blog EntryPasir-pasir nu NgeplakApr 13, '07 10:30 PM
for everyone
PASIR-PASIR CADAS NU NGEPLAK LIR GAJAH BODAS

Ernest Hemingway

PASIR-pasir cadas peuntaseun tegal Ebro manjang tur ngeplak bodas. Di peuntaseun nu beh dieu, taya pisan tempat linduh atawa tatangkalan, tur eta stasion aya di antara dua garis erel nu kapentrang ku panonpoe. Teu jauh ti stasiun katembong kalangkang haneut hiji wangunan gedong, jeung kere nu dijieun tina untunan manik-manik awi ngagantung meuntasan lawang panto nu ngabalungbang nuju ka bar, malar nyieuhkeun laleur. Si urang Amerika jeung wanoja nu ngabarenganana diuk dina hiji meja di tempat nu iuh luareun gedong. Poe mungguh moreret, tur kareta ekspres ti Barcelona baris datang opat menit deui. Kareta teh bakal eureun di eta stasiun salila dua menit samemeh neruskan deui lalampahanna ka Madrid.

”Ngaleueut naon nya enakna?” si wanoja nanya. Manehna muka topina tuluy diteundeun luhureun meja.

”Panas pisan poe teh,” ceuk si lalaki.

”Bir we.”

”Dos cervezas,” si lalaki nyarita ka tukangeun kere.

”Gelas ageung?” saurang awewe nanya ti lawang panto.

”Sumuhun. Dua gelas ageung.”

Si awewe mawa dua gelas bir jeung dua tilam. Manehna neundeun tilam jeung gelas bir di luhur meja bari merhatikeun nu duaan. Si wanoja mindahkeun teuteup ka pasir-pasir cadas. Pasir-pasir teh ngeplak bodas katojo panonpoe tur taneuhna katempo coklat gersang.

”Tingal tuh pasir cadas, ngeplak tur manjang, siga gajah bodas,” manehna ngomong.

”Akang mah can kungsi nempo aya gajah warna bodas,” si lalaki nginum birna.

”Moal akang mah.”

”Mungkin wae,” si lalaki nyarita. ”Yen ceuk Nyai akang can pernah nempo, lain hartina akang moal pernah nempo.”

Si wanoja neuteup kana kere manik-manik.

”Tingal, kere teh ditulisan,” ceuk manehna. ”Naon hartosna nya?”

”Anis de Toro. Eta teh sabangsa minuman.”

“Nyobian tiasa teu?”

Si lalaki ngagero ”hey” ka beh tukangen kere. Si awewe kaluar ti bar.

”Sadayana opat real”

”Nyungkeun Anis del Toro, dua”

“Dicampur ku cai?”

“Bade dicampur ku cai?”

“Duka atuh,” si wanoja nyarita. “Enak kitu pami dicampur cai?”

“Sumuhun.”

“Dupi bapa minumanna bade dicampur ku cai?” tanya si awewe.

”Enya, dicampur cai.”

“Rasana siga licorice,” ceuk si wanoja bari neundeun gelasna.

“Memang siga kitu sadayana ge.”

“Uhun,” ceuk si wanoja. “Sadayana siga licoricie. Komo nu tos lami diantosan ku akang mah, siga absinthe, anggur Perancis.”

”Enggeus atuh.”

”Akang nu ngamimitian,” ceuk si wanoja. “Padahal tadi abdi nuju ngaraos bungah. Abdi teh nuju ngararaoskeun waktu-waktu nu pinuh kabungahan.”

”Enya... enya. Akang can rengse tadi. Maksud akang teh itu pasir nyaan katingalina jiga sakumpulan gajah bodas. Waas nya?”

“Uhun waas.”

“Akang hayang nyobaan inuman nu enggal tea. Pan tadi teh kitu sanes? Urang teh keur ningalikeun itu pasir jeung nyobaan inuman enggal.”

”Uhun asana mah.”

Si wanoja neuteup ceuleuyeu ka lebah pasir.

”Pasir nu waas,” omongna. ”Teu patos siga gajah bodas sih. Maksadna warnana di antara tatangkalan.”

“Bade nambih minumanna?”

“Uhun.”

Angin haneut niup kere ka beh meja.

“Birna enak jeung tiis,” ceuk si lalaki.

“Uhun seger pisan,” ceuk si wanoja.

“Sakadar operasi anu leutik tur aman, Jig.” Si lalaki nyarita. ”Sanes dioperasi enyaan.”

Si wanoja mindahkeun teuteup ka handap, kana tatapakan suku meja.

”Akang nyaho, nyai moal nolak. Ieu mah sanes nanaon. Ukur mukakeun sina asup hawa.”

Si wanoja teu lemek.

”Akang rek nyarengan kaditu jeung bakal nungguan nepi ka rengse. Ukur mukakeun lolongkrang hawa, satuluyna mah biasa deui saperti bihari.”

”Teras pami tos kitu urang bade naon?”

”Saterusna nya urang bakal biasa wae. Saperti samemehna.”

”Naha akang gaduh pikiran kitu?”

”Ngan eta nu ngaganggu urang. Ngan eta nu ngajadikeun urang teu bagja.”
Si wanoja neuteup kana kere manik-manik, leungeunna ngopepang, ngarawel dua tungtung tali manik-manik.

”Janten urang moal kunanaon tur bakal bagja?”

”Tangtu wae. Teu kedah sieun. Akang seueur kenal jeung jalmi-jalmi nu pernah ngalaman hal eta.”

”Abdi ge,” ceuk si wanoja. ”Satuluyna maranehna sadaya ngaraos bagja.”

”Nya entos atuh,” ceuk si lalaki, ”mun nyai alim mah ulah. Akang moal nitah mun nyaho nyai alim. Tapi da ieu mah gampil pisan.”

”Akang leres hoyong abdi ngalakukeun eta?”

”Ceuk akang mah eta nu pang alusna keur urang. Tapi akang teu hayang mun nyaina ngaraos kapaksa.”

”Teras, pami abdi ngalakukeun eta, akang bakal ngarasa bagja, sareng sadayana bakal jiga bihari tur akang bakal tetep nyaah ka abdi?”

”Akang nyaah ka nyai danget ieu. Akang nyaah pisan, nyai terang eta pan?”

”Abdi terang. Namung pami abdi ngalakukeun hal eta, naha Akang baris ngaraos waas pami ku abdi disebatkeun yen itu pasir lir gajah bodas tur bakal resep ningalina?”

”Akang bakal resep ningalina. Akang bakal resep, tapi ayeuna mah akang teu kapikiran hal nu kararitu. Nyai pan apal lamun akang keur tagiwur.”

”Pami abdi ngalakukeun hal eta, naha akang moal tagiwur?”

”Akang moal tagiwur, sabab operasina ge leutik pisan.”

”Nya atuh, abdi bade ngalakukeun hal eta. Kumargi abdi mah tos teu mikiran diri sorangan.”

”Naon maksud nyai?”

”Abdi mah tos teu mikiran diri sorangan.”

”Tapi akang mikiran nyai.”

”Sumuhun. Tapi abdi tos teu mikirkeun kana diri sorangan. Abdi pasti bade ngalakukeun hal eta tur sadayana bakal balik deui siga bihari.”

”Akang teu hayang nyai ngalakukeun eta lamun nyai ngarasa saperti kitu.”

Si wanoja nangtung tuluy leumpang muru tungtung stasion. Di peuntas, di tukangeunana, katembong ngampar kebon gandum jeung tatangkalan sapanjang tegalan Ebro. Di kajauhan beh ditu, di peuntaseun walungan, kaciri pasir-pasir rarentul. Kalangkang awan leumpang meuntasan kebon gandum tur manehna mencrong ka walungan nu bulat-beulit ngaliwatan tatangkalan.

”Urang bakal ngengingkeun sadayana,” cenah. ”Urang bakal ngengingkeun sadayana tapi beuki dieu bet asa beuki pamohalan.”

”Nyai nyarios naon?”

”Uhun, saur abdi teh urang bakal tiasa ngengingkeun sadayana.”

”Ayeuna urang tos gaduh sadayana.”

”Ayeuna mah henteu.”

”Urang tiasa ngengingkeun sakabeh nu aya di dunya.”

”Teu.”

”Urang bisa angkat kamana wae.”

”Teu, teu tiasa. Sadayana sanes nu urang deui.”

”Nu urang.”

”Sanes. Sakali ku maranehna dicandak, urang moal tiasa ngengingkeunana deui.”

“Tapi apanan maranehna can nyarandak.”

”Antosan we, engke ge katingali.”

”Hayu ah, ka palih ditu, nu iuh,” ceuk si lalaki. ”Nyai teu menang ngarasa kitu.”

”Abdi teu ngaraos nanaon,” si wanoja nyarita. ”Abdi mung terang wungkul.”

”Akang teu hayang nyai ngalakukeun nu ku nyai teu hayang dilakukeun.”

”Sareng ngalakukeun nu teu sae jang diri abdi, ” ceuk si wanoja. ”Abdi ngartos. Tiasa nyungkeun birna deui?”

”Mangga. Tapi nyai kudu bisa ngarasakeun ...”

”Abdi ngaraoskeun,” ceuk si wanoja. ”Tiasa tong ngobrolkeun deui hal ieu?”
Maranehna diuk dina meja nu tadi, si wanoja mencrong ka pasir di lebah nu datar tur garing di tegal eta, si lalaki neuteup ka si wanoja jeung meja tea. ”Nyai kudu ngarasakeun,” si lalaki nyarita, ”yen akang teu hayang nyai ngalakukeun hal eta mun nyai teu purun. Akang bener-bener niat rek narimakeun saayana lamun eta kahayang nyai.”

”Sanes eta kahoyong akang teh? Urang tiasa sasarengan salamina.”

”Tangtu bae. Tapi akang teu hayang nu sejen, iwal nyai. Akang teu hayang nu sejen. Jeung akang apal yen ieu teh bener-bener hal nu biasa.”

”Uhun, abdi terang ieu teh leres-leres biasa.”

”Teu kunanaon nyai nyarita kitu, tapi akang bener-bener apal kana hal eta.”

”Akang kersa ngalakukeun hiji hal kanggo abdi ayeuna?”

”Naon wae ku akang bakal dilakukeun jang nyai.”

”Abdi nyungkeun Akang tong nyarioskeun hal eta deui!”
Si lalaki teu ngomong nanaon deui, tapi manehna mencrong ka tas-tas maranehanana nu nyangsaya di tembok stasion. Katempo stiker sababaraha hiji hotel nu pernah disareaan ku maranehanana narapel di dinya.

”Tapi akang teu hayang nyai ngalakukeun hal eta,” si lalaki nyarita, ”akang moal .. nanaon tentang eta.”

”Abdi bade ngajerit.”

Si awewe kaluar tina tukangen kere bari mawa dua gelas bir tur diteundeun dina luhur tilam. ”Kareta bakal dugi lima menit deui,” omongna.

”Nyarios naon cenah?” si wanoja nanya.

“Saurna kareta bade dugi lima menit deui.”

Si wanoja imut ka si awewe, nganuhunkeun.

”Mending cuang candakan ieu tas-tas teh ka sisi stasiun palih ditu,” ceuk si lalaki. Si wanoja imut ka manehna.

”Uhun mangga, enggal kadieu deui, cuang seepkeun bir teh.”
Manehna ngangkat dua tas gede tuluy dibawa nguriling ka sisi jalur erel beh peuntas. Manehna mencrong ka eta jalur, tapi teu bisa nempo karetana. Manehna leumpang deui ngaliwatan ruangan bar, paragi jalma-jalma nungguan kareta bari ngaropi. Manehna nginum sagelas Anis di bar eta bari neuteup ka para panumpang. Kabeh keur narungguan kareta. Manehna kaluar deui ngaliwatan kere manik-manik. Si wanoja keur diuk di mejana tur imut ka manehna.

”Teu kunanaon?” manehna nanya.

”Henteu,” ceuk si wanoja. ”Teu kunanaon. Abdi teu kirang nanaon.”

Ernest Miller Hemingway (21 Juli 1899 – 2 July 1961) saurang panulis novel, carpon jeung wartawan urang Amerika nu kawentar. Di leler hadiah Pulitzer dina taun 1953 keur novel The Old Man and the Sea. Manehna oge dileler Hadiah dina taun 1954. Gaya nu mandiri Hemingway dicirikeun ku kalimat-kalimat nu parondok tur sederhana, nu mangaruhan perkembangan dunya panulisan fiksi di abad 20-an.

Disundakeun ku kang Avid tina "Bukit-bukit Bagai Gajah Putih" nu aya dina Buku Antologi Cerpen Nobel, Bentang Mei 2004

Pages:123
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.